KepulauanAru,ExposeJargaria.com-Ketua TP PKK Kabupaten Kepulauan Aru Claudia Imarisa Kaidel menyampaikan bahwa stunting masih menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Perintah Daerah Kepulauan Aru. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Tahun 2024, prevalensi stunting di Kepulauan Aru tercatat sebesar 37,6 persen.
Sementara berdasarkan data aplikasi pencatatan gizi tahun 2025, angka tersebut berada pada 26,73 persen, sedangkan data tahun 2026 hingga saat ini tercatat sebesar 30,49 persen.
“Ini menunjukkan bahwa stunting bukan hanya urusan Dinas Kesehatan, tetapi urusan kita bersama sebagai lintas sektor,” ujarnya saat membawa sambutannya dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Percepatan Penurunan Stunting bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Kepulauan Aru sekaligus membuka Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKS-TTB), Senin (5/10/2026) di lantai II Kantor BPKAD Aru.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah menargetkan prevalensi stunting secara nasional pada tahun 2029 sebesar 14,2 persen, sedangkan wasting ditargetkan sebesar 5 persen.
Menurutnya, pencapaian target tersebut membutuhkan kerja bersama, koordinasi yang kuat, serta intervensi yang dilakukan secara terpadu mulai dari tingkat keluarga hingga pemerintah daerah.
Claudia menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh perangkat daerah sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.Hal tersebut dinilai relevan bagi Kabupaten Kepulauan Aru yang merupakan wilayah kepulauan dan memiliki kerentanan terhadap berbagai kondisi kebencanaan.
Karena itu Dinas Kesehatan diharapkan memperkuat pelayanan Posyandu dan antenatal care (ANC), pemberian pangan tambahan bagi ibu hamil dan balita gizi kurang, serta penanganan kasus gizi buruk.
Menurutnya dengan memperkuat Kolaborasi Lintas Sektor
Rakor tersebut menjadi ruang koordinasi untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam percepatan penurunan stunting sekaligus meningkatkan cakupan intervensi kesehatan masyarakat.
















